This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 22 September 2025

cara meng input vid di blog

 

kita harus melestarikan budaya kita




Senin, 15 September 2025

Perjalannanku dari kelas 6 hingga kelas 8

 

Waktu aku lulus SD, rasanya campur aduk banget—antara senang, deg-degan, dan penuh harapan. Aku semangat banget karena akhirnya bisa lanjut sekolah ke SMPK Santa Maria 2 Malang, sekolah yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Di momen itu aku ngerasa kalau ini bakal jadi awal perjalanan baru yang seru. Aku benar-benar nggak sabar pengin ketemu guru-guru dan teman-teman baru di SMP.

Pas masuk masa MPLS, suasananya keren banget! Ada banyak kegiatan yang seru, apalagi acara inagurasi yang meriah dan rame. Aku jadi makin semangat kenal sama sekolah baru. Nggak cuma itu, aku juga dapet banyak teman baru yang ramah dan baik. Rasanya aku langsung bisa akrab, jadi nggak ada rasa canggung. Dari hari-hari pertama itu, aku sudah merasa nyaman dan betah bersekolah di sini.

Selain kegiatan belajar, aku juga ikutan ekstrakurikuler wushu. Dari awal nyobain, aku langsung suka karena latihannya seru dan bikin badan sehat. Aku bisa belajar gerakan-gerakan yang keren sekaligus melatih disiplin. Latihan bareng teman-teman juga bikin tambah seru, kadang capek tapi tetap fun. Wushu jadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama aku sekolah di sini.

Memasuki semester 2, aku mulai merasa ada peningkatan di nilai-nilaiku. Belajarku lebih fokus, dan hasilnya terlihat jelas di raport. Pas naik ke kelas 8, aku makin senang karena raportku bagus. Itu bikin aku makin semangat buat terus belajar lebih rajin. Rasanya puas banget ketika usaha dan kerja keras selama satu tahun ada hasilnya.

Sekarang, aku sudah di kelas 8 dan perjalanannya semakin seru. Guru-gurunya asik, cara ngajarnya mudah dimengerti, jadi pelajaran terasa lebih ringan. Teman-temanku juga baik-baik dan nggak ada yang jahat, jadi suasana kelas selalu menyenangkan. Aku bersyukur banget bisa sekolah di SMPK Santa Maria 2 Malang, karena di sini aku bukan cuma belajar pelajaran, tapi juga belajar persahabatan, kerja keras, dan banyak pengalaman berharga.

Senin, 08 September 2025

Nicholas, Si Kolektor Patung Dewa-Dewi Sejak Kecil

 

Di zaman sekarang, anak SMP kebanyakan sibuk main game, scroll TikTok, atau nonton YouTube. Tapi beda cerita dengan Nicholas Kartika Chandra, siswa kelas 8 di SMPK Santa Maria 2 Malang. Nicholas punya hobi yang nggak biasa: ngoleksi barang antik dan patung dewa-dewi dari berbagai kepercayaan, kayak Buddha, Khonghucu, Hindu, sampai tradisi Tionghoa kuno.

Berawal dari Rasa Penasaran

Hobi ini nggak muncul tiba-tiba. Sejak masih SD, Nicholas udah suka lihat-lihat benda kuno. Waktu itu, dia nemu sebuah patung kecil Dewi Kwan Im di toko antik milik pamannya. Entah kenapa, patung itu langsung bikin dia penasaran. Dari bentuknya yang anggun sampai makna spiritual di baliknya, semua bikin Nicholas tertarik banget.

Dari situ, dia mulai nyari tahu lebih dalam soal patung-patung dan dewa-dewi dari berbagai budaya. Akhirnya, setiap ada waktu luang, Nicholas suka jalan-jalan ke pasar loak atau toko antik buat cari barang baru buat koleksinya.

Kamar Jadi Museum Mini

Kalau masuk ke kamar Nicholas, rasanya kayak masuk ke museum kecil. Ada rak-rak penuh patung dewa-dewi, mulai dari Buddha Sakyamuni, Dewa Ganesha, Dewi Kwan Im, sampai patung-patung tradisional dari Tionghoa. Semua ditata rapi, ada lampu lembut, bahkan wangi dupa juga bikin suasana makin tenang.

Dia nggak cuma ngumpulin, tapi juga ngerawat dengan serius. Bersihin patung, nyatet asal-usulnya, bahkan baca buku atau cari info soal maknanya. Nggak heran kalau Nicholas punya pengetahuan yang luas banget soal simbol-simbol budaya dan spiritual dari berbagai tradisi.

Belajar Toleransi Lewat Koleksi

Lewat hobinya ini, Nicholas belajar banyak hal. Bukan cuma soal sejarah dan budaya, tapi juga soal toleransi dan menghargai perbedaan. Dia sadar, meskipun patung-patung itu datang dari ajaran yang beda-beda, semuanya punya pesan yang mirip: tentang kasih sayang, kedamaian, dan kebijaksanaan.

Makanya, buat dia, koleksi ini lebih dari sekadar benda antik. Ini adalah harta rohani yang bisa ngingetin kita buat hidup lebih baik dan saling menghormati satu sama lain.

Hobinya Nggak Biasa, Tapi Bermakna

Nicholas Kartika Chandra nunjukin kalau hobi itu nggak harus selalu ikut tren. Dengan ngoleksi patung dan barang antik yang penuh makna, dia udah mulai merawat warisan budaya sejak muda. Mungkin aja suatu hari nanti, koleksi Nicholas bakal jadi museum beneran yang bisa dikunjungi orang banyak.

Dan yang paling penting, lewat hobinya, Nicholas ngajarin kita satu hal: bahwa menghargai budaya dan kepercayaan orang lain itu penting — dan bisa dimulai dari hal kecil.selain itu dia juga memiliki hobi untuk mempelajari agama agama yang ada di indonesia agar ia dapat mengenal gama yang lain dan dapat menjadi toleransi


Selasa, 02 September 2025

perkembangan ai

 1. Awal Konsep (Sebelum 1950-an)

  • Abad ke-4 SM: Filsuf seperti Aristoteles mulai mengeksplorasi logika formal, yang menjadi dasar pemikiran algoritmik.

  • Abad ke-17 - 19: Tokoh seperti RenΓ© Descartes dan Leibniz memikirkan tentang mesin berpikir dan logika simbolik.

  • 1930-an: Alan Turing memperkenalkan mesin Turing, model komputasi teoretis yang membentuk dasar bagi komputer modern dan AI.

2. Lahirnya AI (1950 - 1960-an)

  • 1950: Alan Turing menulis makalah “Computing Machinery and Intelligence”, memperkenalkan Turing Test sebagai ukuran kecerdasan mesin.

  • 1956: Konferensi Dartmouth – disebut sebagai kelahiran resmi AI. Tokoh seperti John McCarthy, Marvin Minsky, dan Allen Newell hadir.

    • John McCarthy menciptakan istilah "Artificial Intelligence".

    • Program Awal AI

      • Logic Theorist (1955): oleh Newell dan Simon, program AI pertama untuk membuktikan teorema matematika.

      • General Problem Solver (1957): menyelesaikan berbagai masalah simbolik sederhana.

      Fokus awal: Penalaran simbolik (symbolic reasoning), sistem berbasis aturan (rule-based systems).

      3. Ekspektasi Tinggi dan Kemunduran (1970-an – “AI Winter”)

    • Permulaan Kekecewaan

      • Sistem AI awal sulit menangani masalah dunia nyata.

      • Kekurangan komputasi dan data.

      • Penelitian tidak memenuhi harapan tinggi dari pemerintah dan investor.

      • AI Winter

        • Terjadi dua kali: akhir 1970-an dan akhir 1980-an.

        • Pendanaan dan minat terhadap AI menurun drastis.

       5. Era Data dan Deep Learning (2000-an - 2010-an)

    • Big Data dan GPU

      • Munculnya internet, media sosial, dan sensor → ledakan data.

      • GPU memungkinkan komputasi paralel untuk pelatihan model besar.

      • Deep Learning

        • Neural network dalam versi yang lebih dalam dan kompleks.

        • Tokoh penting: Geoffrey Hinton, Yann LeCun, Yoshua Bengio.

        • Penerapan Nyata:

          • 2012: AlexNet memenangkan kompetisi ImageNet → revolusi computer vision.

          • NLP: Word2Vec, LSTM, dan BERT membawa kemajuan besar dalam pemahaman bahasa alami.



  •